peran guru dalam membatu ujian nasional

BAB 1

PENDAHULUAN

 

 

  • Latar Belakang Masalah

 

Peran guru dalam pembelajaran adalah pendidik, model, dan pengajar dan pembimbing. Keberhasilan pembelajaran diukur berdasarkan pada ketercapaian kompetensi yang ditetapkan sejak awal kegiatan pembelajaran. Guru dan siswa harus bekerja sama sedemikian rupa, saling mendukung sehingga memungkinkan tercapainya kompetensi yang ditetapkan. Untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar diperlukan langkah-langkah agar tujuan yang ditetapkan dapat dicapai. Unsur yang amat penting dalam suatu proses belajar-mengajar adalah metode mengajar dan media pengajaran yang sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan.

Di tengah kontoversi ujian nasional, ada yang lebih penting yang mesti dilakukan para guru, yaitu mendidik anak-anak agar mental, etos belajar, dan kerja  keras.  Ujian  nasional  penentu  kelulusan  boleh saja  tidak  sepakat,  tapi  sebagai  guru  harus  tetap  menjadikan  momen  ini  tidak berlalu  sia-sia  sudah saatnya  berupaya  membentuk  kultur  sekolah  yang  memiliki  komitmen  untuk memelihara  nilai-nilai  unggul  (living  values)  yang menjadi  spirit,  acuan,  dan ilmu   kehidupan   bagi   guru,   murid,   maupun   karyawan   sekolah.   Sebuah komunitas sekolah seharusnya merupakan learning society yang setia menjaga dan  menghidupkan    nilai-nilai    unggul    dalam    kehidupan sehari-hari. Masyarakat berharap, sekolah dapat menjadi lembaga katalisator yang mampu memfasilitasi  siswa  menemukan  dan  mengembangkan  bakat  dan  minatnya dengan disertai nilai-nilai moral yang luhur.

Stres,  tegang,  gelisah,  panik,  khawatir  dan  takut  menghadapi  ujian merupakan gejala psikologis yang kerap mendominasi hati dan pikiran. Tidak sedikit  pula  yang  bersikap  sebaliknya,  terlihat  acuh  tak  acuh  dan  dibawa santai.  Sindroma  menjelang  ujian,  tentu  perlu  dicermati  dan  diatasi  secara tepat,  baik  oleh  diri  siswa  sendiri,  orang  tua  maupun  guru.  Dalam  kondisi tertentu,  sindrom  UN  tersebut  kerap  mengganggu  kesehatan.  Ada  yang  jadi gampang  sakit,  terlihat  lesu  dan  sulit  berkonsentrasi  ketika  belajar.  “Takut tidak lulus”, adalah hal yang normal bagi setiap siswa dan paling membebani mental para siswa.  Upaya   mengatasi   dan   meminimalisasi Sindroma   UN   memerlukan upaya  persiapan  dan  dukungan  integral  dari  aspek  material,  moral,  mental, psikologis,  spiritual,  intelektual  dan  emosional  yang  dilakukan  semua  pihak terkait,  terutama  pemerintah  sebagai  penyelenggara. Munculnya  sindroma yang    berulang   dari   tahun   ke   tahun   adalah   sebuah   realita   bahwa   UN membebani banyak siswa, bahkan para guru juga orang tua siswa.

Masalah pada penelitian ini yaitu bagaimanakah peran guru sebagai pendidik siswa yang menghadapi ujian nasional, bagaimanakah peran guru sebagai model untuk siswa yang menghadapi ujian nasional dan bagaimanakah peran guru sebagai pengajar dan pembimbing siswa yang menghadapi ujian nasional. Kiranya,   momentum   ujian   nasional   masih   bisa   dijadikan   sebagai wahana  untuk  menyiapkan  mental  siswa  agar  mereka  memiliki  kesiapan  dan kesanggupan    menghadapi    ujian,    baik    ujian    nasional    maupun    ujian kehidupannya.  Penilaian   hasil   belajar   oleh   pemerintah   bertujuan   untuk   menilai pencapaian  kompetensi  lulusan  secara  nasional  pada mata  pelajaran  tertentu dalam   kelompok   mata   pelajaran   ilmu   pengetahuan   dan teknologi,   dan dilakukan  dalam  bentuk  ujian  nasional.  Ujian  Nasional  merupakan  kebijakan pemerintah   dalam   bidang   pendidikan   untuk   menentukan  standar   mutu pendidikan.  Kebijkaan  ini  berkaitan  dengan  berbagai  aspek  yang  dinamis, seperti   budaya,   kondisi   sosial   ekonomi,   bahkan   politik   dan   keamanan, sehingga   akan   selalu  rentan  terhadap  perbedaan  dan kontroversi  sejalan dengan perkembangan masyarakat. Untuk mencapai tujuan pendidikan. Pendidik, peserta didik, dan tujuan pendidikan  merupakan  komponen  utama  pendidikan.  Jika  hilang  salah  satu komponen, hilang pulalah  hakikat pendidikan. Guru adalah salah satu  komponen  terpenting  dalam  proses  belajar  mengajar  yang  ikut  berperan dalam  usaha  pembentukan  sumber  daya  manusia  yang  potensial  di  bidang pembangunan. Oleh karena itu, guru harus berperan aktif dalam menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.

Dari    permasalahan    diatas,    penulis    tertarik    untuk    mengadakan penelitian  tentang  “Peran  Guru   Dalam  Membantu Siswa  Kelas XII  Menghadapi Ujian Nasional Di SMA Negeri 4 Palangka Raya Kalimantan Tengah”.

 

 

 

 

 

 1.2. Rumusan   Masalah

 

1.2.1. Rumusan   Masalah Umum

 

Rumusan pokok masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah peran guru dalam membantu siswa menghadapi ujian nasional di SMA Negeri 4 Palangka Raya.

1.2.2. Sub-Sub Pokok Masalah

 

  1. a) Bagaimanakah peran guru sebagai pendidik siswa yang menghadapi ujian nasional.
  2. b) Bagaimanakah peran guru sebagai model untuk siswa yang menghadapi ujian nasional.
  3. c) Bagaimanakah peran guru sebagai pengajar dan pembimbing siswa yang menghadapi ujian nasional.

 

  • Tujuan Penelitian

 

1.3.1. Tujuan Penelitian Umum

 

Tujuan penelitian ini adalah bagaimana peran guru dalam membantu siswa menghadapi ujian nasional di SMA Negeri 4 Palangka Raya. Guru sebagai pendidik sangat berperan penting dalam membantu dan mengarahkan mekanisme pelaksanaan ujian nasional  dan pembimbing siswa menghadapi ujian nasional.

 

 

 

 

1.3.2. Tujuan Penelitian Khusus

 

Tujuan penelitian khusus ini adalah untuk mendeskripsikan peran guru dalam membantu siswa/I menghadapi ujian nasional:

  1. Untuk mendeskripsikan peran guru sebagai pendidik siswa yang menghadapi ujian nasional.
  2. Untuk mendeskripsikan peran guru sebagai model untuk siswa yang menghadapi ujian nasional.
  3. Untuk mendeskripsikan peran guru sebagai pengajar dan pembimbing siswa yang menghadapi ujian nasional.
    • Pembatasan Masalah

 

Masalah dalam penelitian ini dibuktikan sebagai berikut:

  1. Penelitian ini hanya akan meneliti tentang peran guru dalam membantu. siswa menghadapi ujian nasional di SMA Negeri 4 Palangka Raya.
  2. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negri 4 Palangka Raya bagai siswa kelas XII yang jumlah siswanya adalah 150 orang terdiri dari laki-laki perempuan.
    • Manfaat Penelitian

 

1.5.1. Manfaat Teoritis

            Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi khasana ilmu pengetahuan khususnya pada siswa/I kelas XII untuk lebih semangat menghadapi ujian nasional dan guru juga bisa bermanfaat untuk evaluasi kinerja sebagai pengajar dan pembimbing siswa.

1.5.2. Manfaat Praktis

Praktis penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:

  1. Sekolah karna adanya penelitian ini pihak sekolah mengevaluasi cara berkontribusi guru dengan siswa kelas XII SMA Negeri 4 Palangka Raya.
  2. Guru karna bisa mengetahu dimana kekurangan seorang guru dalam membantu ujian nasional.
  3. Siswa karna siswa bias menila apa yang diwacanakan oleh guru dalam pelaksanaan ujian nasional.
  4. Penelitian selanjutnya ialah dapat digunakan sebagai bahan acuan dan bahan pertimbangan bagi peneliti.

 

1.6. Definisi Istilah

Agar tidak menimbulkan salah arti dalam pemahaman beberapa konsep teori, maka penelitian mendiskripsikan beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikuat.

  1. Peran adalah pola tingkah laku yang diharapkan dari seseorang yang memangku status atau kedudukan tertentu (Taneko, 1986: 23)
  2. Guru adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan kepada anak didik dalam perkembangan baik jasmani maupun rohaninya. (Atmaka, 2004: 17)
  3. Ujian nasional adalah sistem evaluasi   standar   pendidikan satu daerah dengan daerah lain secara nasional. (Gultom 2000:20)

BAB 2

KAJIAN PUSTAKA

 

 

Pada bagian ini akan dijabarkan teori-teori yang berkaitan dengan judul penelitian yaitu tentang bagaimanakah peran guru dalam membantu siswa/I menghadapi ujian nasional.

2.1. Peran Guru

 

2.1.1. Pengertian Peran Guru

Pengertian pran guru adalah sebagai pegawai dalam hubungan kedinasan, sebagai bawahan terhadap atasannya, sebagai kolega dalam hubungannya dengan teman sejawat, sebagai mediator dalam hubungannya dengan anak didik, sebagai pengatur disiplin, evaluator dan pengganti orang tua. (Havighurst) Peranan guru sebagai komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasihat-nsihat, motivator sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkahlaku serta nilai-nilai, oranag yang menguasai bahan yang di ajarkan. (Prey Katz) Peranan guru antara lain: menguasai dan mengembangkan materi pelajaran, merencang dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan siswa. (James W. Brown)

2.1.2. Tugas Guru

Guru banyak memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupu yang di luar dinas,dalam bentuk pengabdian. Apabila kita kelompokkan terdapat tiga jenis tugas guru, yakni tugasdalam bidang profesi,tugas kemanusiaan, dan tugas dalam bidang kemasyarakatan.Guru merupakan profesi/jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagaiguru. Jenis pekerjaan ini tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidangkependidikan walaupun kenyataannya masih dilakukan orang di luar kependidikan. Itulah sebabnya jenis profesi ini paling mudah terkena pencemaran.Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berartimeneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajak berarti meneruskan danmengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkanketerampilan-keterampilan pada siswa.

Tugas guru dalam bidang kemanusiaan disekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagaiorang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para siswanya. Pelajaran apapun yang diberikan, hendaknya dapat menjadi motivasi bagi siswanya dalam belajar. Bila seorang guru dalam penampilannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertamaadalah ia tidak akan dapat menanamkan benih pengakjarannya itu kepada para siswa. Para siswaakan enggan menghadapi guru yang tidak menarik. Pelajaran tidak dapat diserap sehingga setiaplapisan masyarakat (homo indens, homo puber, dan homo sapiens) dapat mengerti bilamenghadapi guru.Masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di lingkungannya karenadari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memeperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia Indonesiaseutuhnya yang berdasarkan pancasila.

 

 

2.1.3. Peran Guru Dalam Proses Belajar Mengajar

 Perkembangan baru terhadap pandangan belajar-mengajar membawa konsekuensi kepadaguru untuk menigkatkan peranan dan kompetensinya karena proses belajar-mengajar dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompetenakan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampumengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal. Peranan dan kompetensi guru dalam proses belajar-mengajar meliputi banyak hal sebagaimana yang dikemukakan oleh Adams & Decey dalam Basic Principles of StudentTheaching, antara lain guru sebagai pengajar, pemimpin kelas, pembimbing, pengatur lingkungan, partisipan, ekspeditor, perencana, supervisor, motivator dan konselor. Yang akan dikemukakan disini adalah peranan yang dianggap paling dominan dan diklasifikasikan sebagai berikut.

  1. guru sebagai pendidik

pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.

  1. guru sebagai model

Guru merupakan model dan teladan bagi peserta didik. Oleh karena itu, pribadi dan apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang disekitar lingkungannya baik dari gaya bahasa guru dalam berbicara, gaya kebiasaan guru bekerja, sikap guru melalui pengalaman dan kesalahan yang dilakukan, pakaian yang menampakkan ekspresi seluruh kepribadian.

  1. guru sebagai pengajar dan pembimbing

memberi tekanan kepada tugas, memberikan bantuan kepada siswa dalam pemecahan masalah yang dihadapinya. Tugas ini merupakan aspek mendidik, sebab tidak hanya berkenaan dengan pengetahuan, tetapi juga menyangkut pengembangan kepribadian dan pembentukan nilai-nilai para siswa.

2.1.4. Fungsi Peran Guru

Fungsi pran guru sangat penting dalam dunia pendidikan sebagai berikut:

  1. Merencanakan tujuan belajar.
  2. Mengorganisasikan berbagai sumber belajar untuk mewujudkan tujuan belajar.
  3. Memimpin, yang meliputi memberikan motivasi, mendorong, dan memberikan stimulus pada siswa.
  4. Mengawasi segala sesuatu, apakah sudah berfungsi sebagaimana mestinya atau belum dalam rangka pencapaian tujuan.
  5. Menjadi pembantu ketika diperlukan Mengembangkan proses sosialisasi yang wajar antar peserta didik, orang lain, dan lingkungannya.

 

2.1.5. Jenis-Jenis Peran Guru

  1. a) Peran Guru sebagai Pendidik.
  2. b) Peran Guru sebagai Motivator.
  3. c) Peran Guru sebagai Administrator.
  4. d) Peran Guru sebagai Inovator.
  5. e) Peran Guru sebagai Manajer.
  6. f) Peran Guru sebagai Fasilitator.

.

2.2. Pengertian Ujian Nasional

Ujian nasional biasa disingkat UN / UNAS adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan di Indonesia. Ujian Nasional adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Selain itu sebagai sarana untuk memetakan mutu berbagai tingkatan pendidikan satu daerah dengan daerah lain. (Syawal Gultom)

Ujian Nasional adalah penilaian hasil belajar oleh pemerintah yang bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok ilmu pengetahuan dan teknologi. (Hari Setiadi)

 

2.2.1. Tujuan  Dan Fungsi Manfaat Ujian Nasional

UN merupakan amanah Undang Undang Nomor 20 Tahun 2005 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang bertujuan untuk mengukur pencapaian kompetensi lulusan pada mata pelajaran secara nasional dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

Selain itu, UN diadakan dalam melaksanakan amanah PP 19/2015 yang direvisi menjadi PP 32/2014 dan PP 13/2015. UN sebagai sub-sistem penilaian dalam Standar Nasional Pendidikan (SNP) menjadi salah satu tolak ukur pencapaian SNP dalam rangka penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan. Oleh karena itu, seluruh siswa wajib mengikuti UN untuk mengukur pencapaian kompetensi lulusan siswa secara nasional. Beberapa manfaat UN (Ujian Nasional) tahun pelajaran 2015/2016, di antaranya hasil UN akan digunakan untuk:

  1. pemetaan mutu program pendidikan dan/atau satuan pendidikan,
  2. pertimbangan seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, dan
  3. dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan untuk pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan.

Terdapat juga beberapa manfaat UN bagi Pemerintah Daerah yang mana dengan adanya Ujian Nasional, maka Pemerintah Daerah dapat memanfaatkan hasil UN tersebut untuk melakukan pemetaan pencapaian standar peserta didik, satuan pendidikan maupun wilayah. Pemetaan ini dapat digunakan untuk menyusun program pembinaan untuk satuan pendidikan dan wilayah.

2.2.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil UN

            Jika jumlahnya siswa yang tidak lulus sekolah akan dianggap yang tidak “bonafid”.Fair?  Para guru yang disalahkan pun pasti akan membela diri. Lantas siapa yang harus disalahkan. Kalau mau fair, tentu tidak mudah menentukan siapa yang salah. Karena sesungguhnya keberhasilan itu sangat dipengaruhi oleh banyak sekali faktor. Secara garis besar faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

 

 

Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dalam diri siswa sendiri, seperti kecerdasan intelektual, kecemasan, kesiapan mental, bahkan kondisi fisik. Bagi siswa yang memiliki keterbatasan kecerdasan intelektual tentu akan mengalami kesulitan menghadapi soal-soal UN yang diperuntukkan mereka yang normal dan di atas normal, sekalipun batas kelulusan hanya 5,5. Sekuat apapun mereka berusaha dan menyiapkan diri, tetapi karena memang dasarnya kecerdasan mereka terbatas akan sulit berhasil dengan baik. Dengan kondisi seperti ini, apakah mereka pantas disalahkan atas kegagalannya lulus UN. Satu hal yang pasti dan patut kita sadari adalah bahwa tidak ada seorang pun mau memiliki keterbatasan kecerdasan intelektual ini. Semua orang pasti menginginkan memiliki kecerdasan yang luar biasa, minimal normal.

Faktor Eksternal

Yang dimaksud faktor eksternal adalah faktor-faktor yang ada di luar diri siswa yang dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan siswa lulus ujian nasional, seperti lingkungan belajar di rumah atau sekolah, lingkungan fisik tempat ujian berlangsung, fasilitas/sarana dan prasarana yang dimiliki dan digunakan siswa, baik di rumah maupun di sekolah, situasi dan kondisi pada saat ujian berlangsung, dan juga masalah teknis berkenaan dengan cara mengisi lembar jawaban dan proses pemeriksaan lembar jawaban.

 

 

 

2.3. Penelitian Yang Relevan

Peneliti yang relevan di ambil dari skripsi M. ARGOTORO, pada tahun 2010 yang berjudul “Pengembangan  Metode   Guru   dalam membantu  Siswa  Kelas  XII Menghadapi  Ujian  Nasional  di SMA Negeri 61 Surabaya ”. MUHAMAD ARGOTORO, Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Latar  belakang  penelitian  ini  adalah  bahwa  dalam  mempersiapkan  mental siswa  diantaranya  adalah  sekolah  harus  mampu  meluluskan  siswanya  dengan persentase yang tinggi. Tuntutan kelulusan siswa yang tinggi mendorong sekolah untuk melakukan berbagai upaya untuk mencapainya. Ketidaklulusan siswa dalam ujian  nasional  bisa  saja  bukan  karena  faktor  ketidakmampuan  siswa  dalam menguasai  materi  pelajaran,  tetapi  hal  tersebut  bisa  disebabkan  karena  kondisi fisik  siswa  atau  kelelahan  mental,  strees  pada  saat mengerjakan  ujian  ataupun kesalahan   pengukuran   yang   sering   terjadi   pada   setiap   tes.   Kebijakan   yang diterapkan kepala sekolah, yaitu memberikan peran kepada guru untuk ikut serta   dalam   membantu.   Penelitian ini   bertujuan   untuk mengetahuai dan mendeskripsikan peran guru dalam memersiapkan mental siswa kelas XII dalam menghadapi ujian nasional. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan mengambil lokasi di SMA Negeri 61 Surabaya.   Pengumpulan   data   dilakukan   dengan angket.  Analisis  data  yang  digunakan yaitu  analisis  deduktif, yaitu menganalisis data yang umum kemudian ditarik kesimpulan yang khusus. Hasil   penelitain   menunjukan   bahwa   peran   guru   dalam   ujian nasional   sangat   penting   yaitu   untuk   mempersiapkan   mental   siswa   ataupun meminimalisir  rasa  stres  yang  siswa  alami  baik  sebelum  atau  sesudah  ujian dilaksanakan.  Dalam  hal  ini  guru yaitu,  sebagai pembimbing motivator. Perannya   sebagai   motivator   yaitu   diberikan   ketika   pembelajaran berlangsung.

Hasil  peran  guru  dalam  mempersiapkan  siswanya  dalam  menghadapi  ujian nasional adalah siswa mempunyai kesiapan mental yang kuat pada sebelum ujian, dan saat  ujian  ataupun  sesudah  ujian.  Meningkatnya  tingkat  kelulusan  dari  tahun ketahun dan tidak adanya siswa yang mengalami stres, ketakutan, trauma bahkan tidak  ada  siswa  yang  sampai  melakukan  hal-hal  yang berlebihan  (mengakhiri hidupnya).

Penelitian yang relevan kedua diambil dari skripsi SUKRI ANTO pada tahun 23 mie 2012 yang berjudul “Peran Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa)

Latar belakang penelitian ini adalah Guru efektif akan berbeda dengan guru biasa. Guru efektif akan memberikan sentuhan yang relative tepat sasaran dan lebih berorientasi membangun motivasi. Inilah yang membedakan guruefektif dengan guru biasa yang sekedar mengajar dan memberikan materi sesuai dengan kurikulum tanpa diiringi penerapan fungsi-fungsi personalitas guru itu sendiri. Sering kali guru mengabaikan akan hal itu padahal memotivasi siswa itu penting untuk menunjang keberhasilan dalam belajar siswa dengan begitu mereka merasa dianggap ada dan ikut serta dalam proses belajar. Dan yang perlu kita ketahui ada 2 sifat motivasi, yaitu : motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik yang mempengaruhi tingkah laku seseorang, guru bertanggung jawab supaya pembelajaran berhasil dengan baik, dan oleh karenanya guru berkewajiban membangkitkan motivasi ekstrinsik  pada peserta didiknya. Diharapkan lambat laun timbul kesadaran sendiri untuk melakukan kegiatan belajar dan guru berupaya mendorong dan merangsang agar tumbuh motivasi sendiri pada diri peserta didik. Dalam motivasi ada teori motivasi yang menjadi landasan untuk mengetahui tingkah laku seseorang salah satunya, yaitu : Frued, seseorang tokoh psikoanalitis yang sangat tersohor dalam teori psikoanalisis, mengatakan bahwa tingkah laku manusia ditentukan oleh dua ketetuan dasar,yaitu : insting kehidupan dan insting kematian. Insting kehidupan menapakkan diri dalam tingkah laku seksual, sedangkan insting kematian melatar belakangi tingkah laku- tingkah laku agresif. Teori kognitif menurut pandangan filsuf kuno sepert Pluto, Aristoteles bahwa tingkahlaku tidak digerakkan oleh apa yang disebut motivasi, melainkan oleh rasio. Dalam teori ini sangat mempengaruhi terhadap tingkah laku atau motif. Motivasi adalah kemauan untuk berbuat sesuatu, sedangkan motif adalah kebutuhan,keinginan, dorongan atau implus. Motivasi seseorang tergantung kepada kekuatan motifnya.

Motivasi dipandang sebagai suatu proses pengetahuan tentang proses ini dapat membantu guru menjelaskan tingkah laku yang diamati dan meramalkan tingkah laku orang lain.

 

 

 

 

 

BAB 3

METODE PENELITIAN

 

 

3.1. Pendekatan Dan Jenis Penelitian

 

Pendekatan kuantitatif

Pendekatan penelitian  ini memngunakan pendekatan kuantitatif. Pendekaran kuantitatif adalah kuantitatif adalah pendekatan ilmiah yang memandang suatu realitas itu dapat diklasifikasikan,konkrit,teramati dan terukur,hubungan variabelnya bersifat sebab akibat dimana data penelitiannya berupa angka-angka dan analisisnya menggunakan statistik. (Sugiono 2008)

penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin diketahui. Kasiram (2008: 149)

 

Jenis Penelitian deskripti

Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang dimaksudkan untuk menemukan dan mengembangkan teori, sehingga hasil atau produk penelitiannya dafat menjelaskan kenapa atau  mengapa terjadi gejala atau kenyataan sosial tertentu.

Metode deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. Nazir (1988: 63)

Metode deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas. Sugiyono (2005: 21)

Metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepa. Whitney (1960: 160)

3.2. Rancangan Penelitian

  1. Tujuan penelitian

Bertujuan untuk bagaimana peran guru dalam membantu siswa menhadapi ujian nasional.

  1. b) Pemilihan alat dan bahan

Alat pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data

pada penelitian adalah kuesioner. Kuesioner adalah lembar yang berisi sebuah

pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap responden.

  1. c) Menetapkan variable

“peran guru dalam membantu siswa menghadapi ujian nasional”

  1. d) Menentukan langka kerja

Pada tanggal, 23 mie 2016 di SMA Negeri 4 Palangka Raya peneliti mempersiapkan perlengkapan yang harus dibawa seperti: intrumen pertanyan, buku, dan polpen untuk memudakan pengambilan data.

  1. e) Menetapkan cara menganalisis data

Analisis data yang dilakukan merupakan analisis data berupa angket.

 

3.3. Populasi Dan Sampel

 

Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sugiyono (2007 : 57) populasi adalah berkenaan dengan data, bukan orang atau bendanya.  Nazir (1983 : 372) populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil menghitung ataupun pengukuran kuantitatif maupun kualitatif daripada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap. Nawawi (1985 :141)

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII di SMA Negeri 4 Palangka Raya yang berjumlah laki-laki 75 dan perempuan 75 jumlah keseluruhan 150 siswa/I,  pengembangan populasi sebagai berikut:

Tabel 1 populasi penelitian

no kelas siswa   jumlah
  P L
1 XII 1 18 12 30
2 XII 2 16 14 30
3 XII 3 15 15 30
4 XII4 12 18 30
5 XII5 10 20 30
Jumlah 71 79 150

 

 

Sampel

Sampel dalam  penelitian ini  diambil dengan mengunakan teknik  simple romdom  sampling. Tektik simple romdom samling  adalah wilaya generalisasi yang  terdiri dari objek  atau subjek yang akan menjadi  kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh  penelitian untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (buchari, 2009 : 54)

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. (Sugiyono (2008: 118)

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Jika kita hanya akan meneliti sebagian dari populasi, maka penelitian tersebut disebut penelitian sampel. Arikunto (2006: 131)

Peneliti mengambil sampel cara mengundi  nama-nama  siswa sebagai berikut

Table 2 sampel penelitian

 

no kelas jumlah
1 XII 1 30
2 XII 2 30
3 XII 3 30
4 XII 4 30
5 XII 5 30
  Jumlah 150

 

3.4. Instrumen Penelitian

 

Sub-sub pokok masalah Informasi

 

Pertanyaan Instrument
Guru sebagai pendidik teladan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembangun kemauan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pengarah

1)      Apakah guru kalian itu lebih disiplin dan sikap yang patut dicontoh?

2)      Apakah kalian bisa  meniru sikap baik guru kalian yang teladan?

3)      Apakah perilaku seorang guru bersikap teladan dan santu kepada siswa?

 

 

1)      Apakah guru kalian memberikan semangat  belajar tanpa kalian sadari?

2)      Apakah tanpa disuru dengan guru kalian, kalian akan ada inisiatif untuk belajar dirumah?

3)      Apakah kalian ingin lebih giat belajar kalau ada imbalan disekolah?

 

1)      Apakah kalian bisa menerima pengarahan kebaikan dari guru kalian?

2)      Apakah disaat guru kalian memberikan pengarhan kalian mendengarkan dengan baik dan menyimak guru kalian didepan?

3)       Apakah kalian bisa  menjalankan tugas yang diberikan oleh guru kalian

Angket

 

Angket

 

 

Angket

 

 

 

 

Angket

 

 

Angket

 

 

 

Angket

 

 

 

Angket

 

 

Angket

 

 

 

 

 

Angket

Guru sebagai model Memberikan contoh yang baik terhadap siswa/i 1)      Apakah guru kalian bisa memberikan contoh tauladan terhadap siswa/I yang lain?

 

2)      Apakah guru itu rajin masuk sekolah?

 

3)      Apakah guru itu perna melakukan tidak baik?

 

 

Angket

 

 

 

 

Angket

 

 

Angket

Guru sebagai pengajar dan pembimbing Mengumpulkan data tentang kebaikan atau keburukan siswa/I

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengamati tingkah laku siswa dalam situasi sehari-hari

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengenal para siswa yang memerlukan bantuan khusus

1)      Apakah guru kalian  menindak siswa yang telah melampaui batas?

2)      Apakah sangsi berat yang diberikan guru kalian berefek kepada kalian?

3)      Apakah yang dilakukan guru kalian itu bisa kalian terima untuk perubahan?

 

 

 

1)      Apakah kalian dipangil guru kalau kelihatan ngak masukan baju kedalam?

2)      Apakah guru kalian memberikan hukuman kalau kalian melangar peraturan disekolah?

3)      Apakah kalian sering ditegor oleh guru kalian kalau melangar peeraturan disekolah?

 

1)      Apakah guru kalian  sering membatu siswa/I yang lagi kesulitan dalam memecakan materi?

2)      Apakah para guru kalian memperhatikan metode kalian belajar?

3)      Apakah guru kalian bisa didatangin kerumah untuk  kalian belajar bersama ?

Angket

 

 

Angket

 

 

Angket

 

 

 

 

 

Angket

 

 

Angket

 

 

 

Angket

 

 

 

 

Angket

 

 

 

Angket

 

 

Angket

 

 

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data ini penelitian menggunakan angket. Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain bersedia memberikan respon (responden) sesuai dengan permintaan pengguna. Riduwan (2005, h71)

Quesioner  atau angket adalah daftar pertanyaan yang dibuat berdasarkan indikator-indikator dari variabel penelitian yang harus direspon oleh responden. Widodo (2004, h49)

Angket atau kuesioner adalah daftar pertanyaan yang didistribusikan melalui pos untuk diisi dan dikembalikan atau dapat juga dijawab di bawah pengawasan peneliti. Nasution (2004, h128)

 

3.6. Teknik Analisis Data

Metode analisis data pada penelitian ini mengunakan rumus persentase/ chisquare. Chi Square adalah salah satu jenis uji komparatif non parametris yang dilakukan pada dua variabel, di mana skala data kedua variabel adalah nominal. Apabila dari 2 variabel, ada 1 variabel dengan skala nominal maka dilakukan uji chi square dengan merujuk bahwa harus digunakan uji pada derajat yang terendah.

2

Rumus  chisquare

=

E

Keterangan dari rumus chisquare diatas sebagai berikut:

O= frekuensi hasil observasi

E= frekuensi yang diharapkan

Df= k-1 (k adalah jumlah kategori nominal pengukuran data

DAPTAR PUSTAKA

 

 

HAVIGHURST, 1985. PSIKOLOGI PERKEMBANGAN. Surabaya : Sinar Wijaya

SUGIONO, 2008. Metode Penelitian. Bandung. Alfabeta

KASIRAM. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif & Kualitatif. Jakarta :Rajawali Press.

NAZIR, 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia

SUGIYONO, 2005. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: CV.

WHITNEY, 1960, The Elements of Resert.Asian Eds. Osaka: Overseas Book Co

SUGIYONO. 2007.  Metode Penelitian. . Bandung

Alfabeta

NAZIR, 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia

NAWAWI, 1985. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gajah Mada University Press

BUCHARI, 2009. Manajemen Pemasaran Dan Pemasaran Jasa. Bandung. Alfabeta

SUGIYONO, 2008. Metode Penelitian Kunatitatif Kualitatif dan R&D. Bandung

Alfabeta

ARIKUNTO, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta.

RINEKA CIPTA

RIDUWAN, 2005. Rumus Dan Data Dalam Aplikasi Statistika, Bandung:

ALFABETA

WIDODO, 2004.  Psikologi Belajar. Jakarta. Rinika cipta

NASUTION, 2004. Manajemen Jasa Terpadu. Jakarta: PT Ghalia Indonesia

GULTOM, 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung : PT

Remaja Rosdakarya.

TANEKO, 1986. Kamus besar bahasa Indonesia. Jakarta. Balai pustaka

 ATMAKA, 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta. PT. Rineka Cipta

JAMES W. BROWN, 1985.

SYAWAL GULTOM

HARI SETIADI

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s